Selasa, 22 Mei 2012

Pencarian Manusia Terhadap Tuhan


Drs. St. Mukhlis Denros

Dalam Islam kita mengenal istilah agama menjadi dua, yaitu agama budaya, suatu keyakinan yang dibuat oleh manusia kemudian dianut oleh manusia lainnya, yang kedua agama langit yaitu agama yang diturunkan berdasarkan wahyu dari Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Agama langit yang diturunkan berdasarkan wahyu itu ada tiga yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam, sedangkan agama budaya adalah agama yang dibuat oleh manusia selain yang tiga itu. Sejak zaman dahulu bangsa kita dikatakan sudah menganut sebuah keyakinan walaupun tidak disebut agama seperti animisme dan dinamisme setelah itu datanglah agama Hindu dan Budha yang disebut dengan agama nenek moyang yang menjadi agama warisan bangsa kita, padahal jauh sebelumnya ketika manusia pertama yaitu Adam dan generasi selanjutnya sudah mengenal agama tauhid, yang hanya mengesakan Tuhan Allah semata.
Generasi hari ini adalah hasil pengkaderan generasi masa lalu, generasi masa lalu cetakan generasi yang lalunya lagi, terus ibarat perjalanan dari awal yang akan berakhir nantinya setelah manusia mengalami kehancuran. Pada umumnya manusia tidak bisa lepas dari pengaruh generasi yang terdahulu baik dari segi pemikiran, pakaian sampai kepada keyakinan. Pendek kata dia terbelenggu oleh adat istiadat serta segala nilai warisan masa lalu.
Dalam hal keyakinan atau persembahan kepada Tuhanpun demikian, manusia; baik secara lansung atau tidak dipengaruhi keyakinan yang pernah dianut nenek moyang mereka. Bila ditinggalkan vonis dosa dan durhaka tertuju kepadanya sehingga wajar saja bila orang-orang yang telah berhasil meraih titel sarjana masih terkungkung dengan faham usang walaupun sebenarnya dia tahu tidak sesuai dengan Islam, akalpun menolak bahkan ilmu pengetahuan tidak menerima kebenarannya.
Pada surat Asy Syu’ara ayat 70 sampai 74 pernah terjadi dialoq antara Nabi Ibrahim dengan ayah dab kaumnya sebagai penyembah berhala, ”Ketika ia [Ibrahim] berkata kepada bapak dan kaumnya, ”Apa yang kalian sembah ? ” mereka menjawab, kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya, Ibrahim bertanya, apakah berhala itu mendengar do’amu ketika kamu berdo’a kepadanya ? atau mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat ? mereka menjawab, [Bukan karena itu] sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami tersebut demikian, Ibrahim berkata, ”Maka apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu sembah?”
Dari dialoq tersebut pada satu sisi penyembah berhala tahu bahwa apa yang mereka sembah tiada manfaatnya sama sekali, tapi yang namanya ajaran nenek moyang sulit untuk dirombak atau tidak mengikutinya, tentu kita akan terkucil dan dikucilkan oleh lingkungan adat. Pada satu sisi Ibrahim menginginkan agar apa yang dilakukan apalagi penyembahan harus difikirkan terlebih dahulu, harus dipelajari dan dikaji sesuai dengan fikiran yang jernih. Dilain kalimat segala warisan dari nenek moyang jangan dilahap mentah-mentah.
Lain Ibrahim lain pula ummatnya, Ibrahim adalah orang yang kritis terhadap penyembahan sehingga dikala dia belum kenal siapa Allah, maka terlebih dahulu mencari dan meneliti fenomena alam untuk menyingkap siapa sebenarnya Allah itu.
Ketika Nabi Ibrahim mencari Tuhan yang layak disembah di dunia ini, dia melihat bintang-bintang berkelap-kelip, lansung dia menyatakan, inilah Tuhan, tapi tidak begitu lama bintang-bintang itupun hilang, akhirnya dia menyatakan, tidak mungkin Tuhan hilang, lalu nampaklah olehnya Bulan, diapun bergumam, inila Tuhan, lebih besar dari yang tadi, akhirnya menjelang siang Bulan hilang muncullah Matahari, diapun berkata, nah ini yang lebih besar, inilah Tuhan itu, menjelang sore Matahari tenggelam, akhirnya Ibrahim tidak meyakini benda-benda itu sebagai Tuhan, lansung dia sujud menyerahkan diri kepada Tuhan, siapapun Tuhan itu.
Cerita diatas dapat dilihat pada surat Al An’am 6; 76-79, sebuah sikap Nabi Ibrahim dalam berfikir mencari Tuhan yang sebenarnya.
”ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat."
kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.
Begitu usaha Ibrahim dalam berfikir, merenungkan kejanggalan yang dia lihat dari kaumnya yang menyembah berhala, perenungan melalui pemikiran yang jernih itulah akhirnya dia mendapat jawaban bahwasanya Tuhan yang layak disembah itu hanyalah Allah semata, itu merupakan salah satu hasil dari tafakkur yang dilakukannya.
Pencarian manusia terhadap Tuhannya seiring dengan adanya hidayah dari Allah, iman kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa tidak semua orang mampu untuk menerimanya, karena iman itu merupakan hidayah dari Allah dan hidayah itu hak preogatif dari Allah.
Ustadz Fathuddin Jafar menyebutkan makna dan ruanglingkup hidayah dalam tulisannya di bawah ini;
Kata Hidayah adalah dari bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar katanya ialah (hadaa, yahdii, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan). Khusus yang terakhir, kata (هداية) kalau wakaf (berhenti) di baca : Hidayah, nyaris seperti ucapan bahasa Indonesia. Hidayah secara bahasa berarti petunjuk. Lawan katanya adalah : ضلالة (Dholalah) yang berarti “kesesatan”. Secara istilah (terminologi), Hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Pengertian seperti ini dapat kita pahami melalui firman Allah surat Al-Baqarah berikut : “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang sukses.” (Q.S. Al-Baqarah: 5)
Macam-Macam Hidayah
Para Ulama besar Islam telah menjelaskan dengan rinci dan mendalam perihal Hidayah/Hudan, khususnya yang diambil dari Al-Qur’an seperti yang ditulis oleh Al-Balkhi dalam bukunya “Al-Asybah wa An-Nazho-ir”, Yahya Ibnu Salam dalam bukunya “At-Tashoriif”, As-Suyuthi dalam bukunya “Al-Itqon” dan Ibnul Qoyyim Al-Jawzi dalam bukunya “Nuzhatu Al-A’yun An-Nawazhir”.
Hidayah/Hudan Dalam Al-Qur’an tercantum sekitar 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 Hadits. Sedangkan pengertian Hidayah / Hudan dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat sekitar 27 makna. Di antaranya bermakna : penjelasan, agama Islam, Iman (keyakinan), seruan, pengetahuan, perintah, lurus/cerdas, rasul /kitab, Al-Qur’an, Taurat, taufiq/ketepatan, menegakkan argumentasi, Tauhid/ mengesakan Allah, Sunnah/Jalan, perbaikan, ilham/insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia, mendorong, mati dalam Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.
Dari 27 pengertian tersebut di atas, sesungguhnya Hidayah, secara umum, terbagi menjadi empat bagian utama :
1.Hidayah I’tiqodiyah (Petunjuk Terkait Keyakinan Hidup), seperti firman Allah dalam surat An-Nahl berikut : “Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk (keyakinan hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”. (Q.S. An-Nahl : 37)
Atau seperti firman Allah berikut ini :Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhan Penciptaku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhan Penciptamu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan (tetapi) jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk (hidayah) kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta (penolak kebenaran yang datang dari-Nya). (Q.S. Al-Mu’min: 28)
2.Hidayah Thoriqiyah (Petunjuk Terkait Jalan Hidup, yakni Islam yang didasari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw, seperti Firman Allah dalam surat Al-Hajj berikut ini : “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”. (Q.S. Al-Hajj: 67)
ِAtau seperti firman Allah di bawah ini : “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk (Islam/ Al-Qur’an) kepada mereka dari Tuhan mereka”. (Q.S. Annajm: 23)
3.Hidayah ‘Amaliyah (Petunjuk Terkait Aktivitas Hidup), seperti firman Allah dalam surat Al-Ankabut berikut :Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)
4.Hidayah Fithriyah (Fitrah). Hidayah Fithriyah ini terkait dengan kecenderungan alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan Pencipta, mentauhidkan-Nya dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka.
Realisasinya tergantung atas pilihan dan keinginan mereka sendiri. Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan akal fikiran yang masih bersih (fithriyah) sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan dalam firma-Nnya:Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". (Q.S. Al-An’am: 77)[Mahalnya Harga Hidayah,eramuslim.com.Rabu, 03/03/2010 14:44 WIB]
Sejarah mencatat bagaimana ketika hidayah mendekat kepada Abu Dzar maka dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk menyebarkan hidayah itu kepada semua orang. Sebagaimana yang dikisahkan kembali oleh Ustaz Aidh Abdullah al-Qarni dalam tulisannya;
Abu Dzar yang menyambut seruan dakwah Nabi Shallahu alaihi wa sallam, sesudah Nabi menyebarkan kepadanya dengan sederhana lgi mudah seperti yang telah diterangkan sebelumnya. Sesudah itu Abu Dzar ra langsung pergi ke bukit Shafa, lalu berteriak : "Hai orang-orang Quraiys, aku telah mengakui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah".
Kalimat sangat menyengat perasaan pemimpin yang melampaui batas dari kalangan orang-orang kafir Quraiys. Mereka berdatangan kepadanya dari segala penjuru dan langsung memukulinya beramai-ramai, hinga hampir saja Abu Dzar tak sadarkan diri dan tubuhnya bermandikan darah. Rasul pun datang kepadanya,sedang tubuhnya penuh dengan darah, karena luka pukulan mereka dan keadaannya seakan-akan mengatakan :"Jika memang menyenangkan hatimu apa yang telah dilakukan oleh orang yang dengki kepada kami, maka luka ini tidak lah terasa sakit , jika engkau merasa ridha kepadaku".
Rasul Shallahu alaihi wa sallam tersenyum dan bersabda : "Aku tidak memerintahkan ini kepadamu".
Apa artinya pembelaan seperti ini? Apa artinya pengorbanan seperti ini?
Selanjutnya, Nabi Shallahu alaihi wa sallam bersabda : "Sekarang pulanglah ke kampung kaummu. Sampai bersua nanti!
Abu Dzar ra pulang dan menebarkan hidayah kepada kaumnya, karena sesungguhnya seorang muslim pada hari dia masuk Islam, tujaun agar dengan Dia memberi petunjuk kepada banyak orang, karena manusia sangat membutuhkan seruan dakwahnya."Engkau adalah perbendaharaan mutiara, dan pertama dalam kemelut dunia, meskipun mereka tidak mengenalmu. Engkau adalah dambaan semua generasi, mereka merindukan seruanmu yang tinggi, meskipun tidak mendengarmu".
Abu Dzar bangkit dan mengumpulkan semua kabilahnya di padang sahara, lalu berkata kepada mereka : "Darahku haram bagi darahmu, tubuhku haram bagi tubuhmu, dan harta haram bagi hartamu, sebelum kamu beriman kepada Allah", tegas Abu Dzar. Selanjutnya, Abu Dzar menerankgan agama Islam, seperti yang didengarnya dari Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam.
Belum lagi ia tidur pada malam itu telah beriman sebanyak 70 keluarga berikut dengan kaum wanita, kaum pria, dan anak-anak mereka. Selanjutnya, Abu Dzar menghadap ke rah sebuah pohon yang ada di sana dan dia mulai bermeditasi, karena sesungguhnya dia belum mengetahui shalat dan memang shalat waktu itu belum difardhukan.
Ketika Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, tiba-tiba datang Abu Dzar di barisan paling depan dari kaummnya yang telah beriman. Para shahabat pun keluar. Mereka mengira bahwa di sana ada pasukan musuh yang datang dengan maksud menyerang kota Madinah.
Nabi Shallahu alaihi wa sallam keluar pula bersama dengan para shahabatnya dan ternyata yang datang adalah Abu Dzar, seorang lelaki yang hidup atas dasar kalimah "laa ilaaha illalloh", dan bersujud kepada Tuhan yang telah menurunkan kalimah "laa ilaaha illalloh", sed ang dibelakangnya adalah para muridnya yang telah berhasil diislamkannya.
Setelah melihat kedatangan peringatan dini yang membawa berita gembira alias Abu Dzar ra ini, Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, tersenyum :"Tiada seorang pun yang bernaung di kolong langit dan bercokol diatas hamparan bumi ini lebh jujur ucapannya, selain Abu Dzar", ujar Rasul Shallahu alaihi wa sallam.
Jadi, penyebab yang paling besar bagi seorang hamba untuk meraih hidayah ialah bila mempunyai keinginan yang keras untuk mendapatkannya sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya :"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepad mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar berserta orang-orang yang berbuat baik". (QS : al-Ankabut : 69).[Carilah Jalan Menuju Hidayah Rabbmu,eramuslim.com.Senin, 02/05/2011 13:07 WIB].
Setiap manusia yang punya akal yang sehat, fikiran yang jernih berupaya untuk mencari hidayah bila hidupnya berada dalam kesesatan, apakah mungkin berhala dijadikan sebagai Tuhan, apakah mungkin Tuhan itu tiga, hal ini saja bisa membuat manusia untuk mengkaji kebenaran, berpetualang dalam pencariannya untuk menemukan Tuhan yang sebenarnya, Ibrahim saja yang tidak menduduki perguruan apalagi perguruan tinggi bisa membedakan mana yang layak disembah sebagai Tuhan dan mana yang sebagai makhluk hasil ciptaan Allah, Wallahu A’lam. [Kubu Dalam Padang, 29 Syawal 11432.H/ 27 September 2011.M].


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar