Selasa, 22 Mei 2012

Allah Sebagai Tuhan Yang Esa


Drs. St. Mukhlis Denros

Tak ada nama yang lebih besar, dibanding nama Allah. Dia menciptakan segala. Dia mengatur semua. Dia mengawasi seluruhnya.
Dalam al Qur’an, kata Allah dalam banyak varian disebutkan dalam jumlah yang sangat besar. Kata Allah disebutkan sebanyak 2.698 dalam berbagai konteks, peristiwa dan sifat-sifat-Nya.
Sebutlah nama Allah, maka hati menjadi tenang. Ingatlah nama Allah, maka semuanya menjadi terang. Dzikirkan selalu kata Allah, dengan izin-Nya, takkan ada penghalang.
Nama Allah adalah kata yang merangkumi seluruh nama-Nya, segenap sifat-Nya dan seluas makna-Nya. Allah, tak ada nama yang sebesar ini. “Dan sungguh jika kami bertanya kepada mereka siapakah pencipta langit dan bumi? Niscaya mereka akan menjawab Allah.” (QS. Az Zumar: 38)
Rasulullah bahkan mengajarkan pada kita pelajaran sangat detil bagaimana dan bila waktunya seharusnya menyebut nama Allah. “Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian, karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu Isya lepaskanlah (biarkanlah) mereka. Tutuplah pintumu dan sebutlah nama Allah. Padamkanlah lampumu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah periukmu dan sebutlah nama Allah. Rapatkanlah kendi airmu dan sebutlah nama Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sebutlah Allah. Kapan saja. Dimana saja. Ingatlah Allah, dalam diam, dalam gerak, saat sepi, saat ramai. Niscaya Dia akan menjagamu, melapangkan jalanmu dan memudahkan urusanmu, mendekatkan yang jauh dan merapatkan yang dekat. [Herry nurdi Asma Al Husna : Allahu,Cybersabili, Selasa, 13 April 2010 06:47].
Allah itu ahad; maksudnya adalah Allah saja yang memiliki sifat, pekerjaan dan zat-Nya yang tidak sama dengan makhluk-Nya. Allah ahad atas sifatnya, hanya Dia saja yang mempunyai kesempurnaan sifat, Allah ahad atas pekerjaan-Nya adalah hanya Allah saja yang mampu berbuat demikian menurut kehendak-Nya dan Allah ahad dari segi zat-Nya, kejadian Allah tidak sama dengan kejadian makhluk demikian pula zat kejadian Allah tidak satupun makhluk berkewajiban untuk mengetahinya [112;1-4]

Tidak ada yang menyamainya; walaupun sifat dan pekerjaannya juga banyak dimiliki oleh hamba-Nya tapi segala sifat dan pekerjaan itu jauh berbeda dengan apa yang dikerjakan hamba-Nya, (Dia) Pencipta langit dan bumi. dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat [Asy Syura 42;11]

Allah itu Tuhan bagi sekalian makhluk; semua makhluk yang ada di dunia ini Tuhannya adalah Allah walaupun tidak sedikit yang keliru mengambil tuhan, ada yang mengambil tuhan dari jenis jin, malaikat, manusia, batu, berhala serta apapun yang mereka ikuti dalam seluruh aturan yang dibuat manusia; (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu.[Al An’am 6;102]

Tidak ada tuhan selain Dia; sehingga segala sembahan yang diambil manusia adalah bathil yang mempermudah mereka untuk masuk neraka tanpa hisab, inilah yang disebut dengan syirik, segala pengabdian manusia harus ditujukan kepada Allah semata;

Sejak dahulu manusia berusaha mencari perlindungan yang dapat dijadikan sebagai Tuhan, ada yang mengambil berhala sebagai sembahannya, ada yang berupa batu besar, pohon kayu dan laut dijadikan sebagai Tuhannya, hal ini merupakan fithrah manusia. Manusia bagaimanapun adalah makhluk lemah yang membutuhkan tempat bersandar dan mencari kekuatan lain yang dianggapnya mampu memberi bantuan kepadanya sehingga tanpa ilmu mereka jadikan selain Allah sebagai Tuhannya.

Bila tanpa bimbingan wahyu dari yang Maha Kuasa sungguh banyaklah manusia yang sesat jalan hidupnya, sedangkan wahyu dan para Nabi diturunkan untuk membimbing dan mengajak mereka untuk menyembah Allah masih juga terjadi penyelewengan.

Penyelewengan itu terjadi dengan diambilnya selain Allah sebagai Tuhan, ada yang menjadikan hawa nafsu [25;43], patung-patung dan berhala [26;69-76], jin dan malaikat [34;40-41], nabi-nabi [3;79], thaghut dan orang-orang alim sebagai yang mereka sembah [9;31]. Inilah perjuangan para nabi untuk mengembalikan nilai-nilai tauhid yang telah tercemar; Nabi Musa harus berhadapan dengan Fir’aun yang telah menjadikan dirinya sebagai Tuhan, Nabi Nuh harus menerima pil pahit dengan tenggelamnya sebagian bahkan anaknya sendiri telah menjadikan yang lain sebagai Tuhannya, Nabi Luth merelakan isterinya untuk ditinggalkan karena keingkarannya kepada Allah, Nabi Ibrahim memerangi ayahandanya yang menyembah berhala dan sekaligus berseteu dengan Raja Namrudz, serta para nabi lainnya berupaya menunjuki ummatnya untuk menyembah dan menjadikan Allah saja sebagai Tuhan, tapi upaya itu banyak ditentang oleh kaumnya, ilmu dan pengetahuan serta aktivitas mereka telah bergelimang dengan nilai-nilai yang rendah yaitu syirik atau mensyerikatkan-Nya [25;2-3]’’Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[Lukman 31;13]

Dialah Tuhan yang wajib ditaati; ibadah saja tidak cukup tanpa diiringi dengan ketaatan, sebagaimana iblis adalah makhluk Allah yang sudah banyak ibadahnya serta hamba Allah yang senior, tapi akhirnya terlaknat dan dikutuk Allah karena ketaatannya kepada Allah tidak terujud,”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya..”[4;59]
Firman Allah dalam surat Ibrahim 14;35,”….dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala-berhala”

Arti ayat ini ialah sesungguhnya Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah supaya dia dan anak cucunya dijauhkan dari kesibukan terhadap apa saja yang dapat memalingkan beribadah kepada selain Allah, karena dia tahu bahwa amal perbuatan bagaimanapun baiknya kalau ditujukan kepada selain dari Allah maka amal itu masuk dalam kategori penyembahan berhala, Rasulullah bersabda,”Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kamu sekalian ialah syirik yang paling kecil”, ketika Nabi ditanya,”apa itu syirik kecil” Nabi menjawab,”Riya’” [HR.Ahmad]

Maka barangsiapa yang beramal atau berbuat sesuatu untuk mendapatkan pujian manusia atau supaya populer, maka lenyaplah nilai pahalanya itu, Muhammad Rasulullah karena belas kasihan dan rahmat-nya terhadap ummatnya, memperingatkan agar jangan sampai kita menyia-nyiakan pahala amal kita dengan riya’ dan sum’ah [pamer] itu.“Dari Ibnu Abbas Ra. Menyatakan bahwa Rasulullah Saw ketika mengutus Mu’adz ke Yaman bersabda,”Kamu akan mendatangi kaum ahli kitab. Maka pertama kali yang harus kamu da’wahkan kepada mereka adalah persaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, maka kalau mereka sudah taat kepadamu tentang ajakan itu,ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shalat lima waktu sehari semalam. Kalau mereka sudah taat kepadamu tentang ajakan itu, maka ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka shadaqah yang diambil dari orang kaya mereka untuk diberikan kepada orang fakir miskin. Kalau mereka elah taat kepadamu tentang ajakanmu itu, maka jagalah dan hindari harta benda mereka dan takutlah akan do’a orang yang teraniaya, sebab diantara dia dan allah tidak ada tabir penghalang” [HR.Bukhari dan Muslim]

Didalam sebuah shaheh Muslim dari Nabi saw, beliau bersabda,”Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan ia mengkufuri semua penyembahan kepada selain Allah, maka haramlah hartanya dan darahnya dan perhitungannya nanti ada disisi Allah semata”

Ucapan syahadat harus disertai dengan perbuatan amal yang meniadakan peribadatan kepada selain Allah dan menetapkan ibadah hanya karena Allah semata, sehingga haramlah harta dan darahnya di dunia ini. Adapun hasilnya nanti di akherat, kalau dia benar dan syahadatnya dinyatakan dengan perbuatan yang wajib, ia bisa mendapatkan karidhaan Allah. Kalau tidak, yah itu adalah terserah kepada Allah semata, sebab Allah Maha Mengetahui segala-galanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa bermacam-macam ragam kemusyrikan telah menimpa ummat islam seluruhnya. Maka beliau bertindak mengembalikan mereka kepada aqidah yang selamat, bersendikan Kitabullah dan sunnah rasulnya.

Abul A’la Al Maududi berpendapat,”Adapun yang patut dianggap sebagai Tuhan ; yang menduduki singgasana kekuasaan yang mutlak atas seluruh alam semesta, langit, bumi serta seluruh isinya. Yang demikian ini hanyalah Allah swt. Padanya tergantung seluruh kebutuhan makhluk. Maka adalah palsu prediket ketuhanan bagi sesuatu yang tidak mutlak kekuasaannya dan tidak tergantung padanya kebutuhan-kebutuhan seluruh makhluk. Malah justru bertentangan dengan logika kenyataan.

Ketika seseorang mengakui Allah sebagai Tuhannya maka dia dituntut untuk merealisasikan nilai-nilai tauhid yang telah diucapkan, sehingga menjadi penganut islam yang baik dalam arti kata kualitasnya “kaffah” yaitu islam yang menyeluruh keyakinan yang integral [Al Baqarah 2;208] ”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.

Menjadi orang yang beragama islam yang baik hanya mungkin, bila manusia mempunyai keyakinan yang benar terhadap Allah, karena Allahlah sumber hukum yang tertinggi. Tanpa keyakinan kepada Allah, maka manusia tidak diwajibkan untuk mengerjakan segala macam ibadah kepada-Nya.

Allah memerintahkan kepada manusia agar mereka menggunakan fikiran dan mengerti peristiwa yang terjadi untuk diambil maknanya. Di angkasa raya dengan kebesaran penciptanya berjuta-juta bintang bertaburan memberi warna indahnya langit, pergantian musim dan cuaca, gumpalan awan yang membawa hujan, sungai yang mengaliri air, ”Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang” [Ash Shaffat;6].

Jangankan kita menyaksikan alam raya ini keluar dari orbit bumi, sedangkan di bumi saja dikala malam langit cerah, bintang-bintang bertebaran dihiasi bulan dengan cahayanya memantul ke bumi, hati orang mukmin jadi tunduk, merendah menerima kebesaran Ilahi. Ketika hujan lebat di tengah malam yang pekat disertai badai yang kuat, dingin pula, gelegar kilat yang menyambar tak terlintaskan di dalam hati manusia sedikit saja rasa takut, mohon perlindungan kepada-Nya ?”Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung, dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilinar lalu mengenai siapa saja yang dikehendaki-Nya” [Ar Ra’ad; 12-13].

Kebesaran Allah tak ditemui tandingannya dan hal ini diakui dengan kerendahan hati oleh orang-orang yang beriman yang mau mengetuk hatinya untuk membacakan segala peristiwa dari alam ini, sejak dari biji yang tak berdaya, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia yang dihidupkan serta dimatikan dengan kekuasaan-Nya, ”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir-butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup” [Al An’am;95]

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ciptaan Allah, lautan dengan segala kekayaannya, binatang serangga dengan berbagai jenisnya, tumbuh-tumbuhan dengan corak warnanya sampai kepada diri manusia iu sendiri, ”Dari pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran di muka bumi, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk kaum yang meyakini”[Al Jatsiyah; 4].

Bagaimana awal mula diciptakan manusia yang berasal dari air mani dengan segala proses kejadiannya, ”Allah yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai pencitaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina [air mani]” [As Sajadah; 7-8].
Alangkah indahnya dunia ini dengan aturannya yang rapi, susunan tubuh manusia, mata bening laksana kaca menghias wajahnya, otak sebagai kendali kesadaran manusiapun teraur indah sehingga manusia itu mulia dari makhluk yang lainnya. Pantaskah manusia berlaku sombong kepada penciptanya, berlagak angkuh dan takabur sementara begitu banyak nikmat Allah direguknya dalam hidup ini. Wallahu A’lam. [Kubu Dalam Padang, 28 Syawal 11432.H/ 26 September 2011.M].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar